Pak, Aku Sarjana
Aku masih teringat kau menggendongku kala kau ajak aku bermain, tubuhmu yang saat itu sudah mulai kering keriput tapi kau masih mampu menopangku yang mulai fasih berbicara.
Dulu aku kadang malas-malasan saat kau meminta mencabut ubanmu yang mulai memutih dan memijit punggungmu yang kelelahan kelelahan sepulang bekerja.
Kau lelaki yang hebat, selalu mengajarkanku arti kemandirian, perjuangan hidup dan selalu semangat dalam menghadapi sesuatu.
Pak kau menghadirkan dan membesarkan kami anak-anakmu dengan penuh kesederhanaan, kebahagiaan kita cukup hanya ketika kita bisa makan bersama, itu sudah bahagia luar biasa.
Dulu kau sering memotivasiku, bahwa aku harus lebih baik darimu, aku jangan sampai sepertimu, kesuksesanmu harus lebih dari ku, ungkapmu. Dan ku yakin do'amu tak pernah berhenti untuk istrimu dan keluarga mu.
Pak, aku paham betapa berat jadi engkau, susah payah berjuang sejak muda demi menghidupi keluarga, kadang perjuanganmu tidak banyak yang mengapresiasi bahkan menghargai, tapi hebatnya engkau tak butuh itu. Bahkan ketika usiamu menua dan sakit menerpa, kau masih tetap semangat berjuang untuk keluarga hingga kau tutup usia.
Kali ini aku sadar betapa sulitnya menjadi seorang suami dan bapak sekaligus.
Pak maaf, anakmu belum memberikan apa-apa untukmu semasa hidupmu, bahkan untuk bersua berdiskusipun kita jarang, apalagi sampai berfoto ria.
Hari ku bawakan kado perjuanganku untuk mu, demi mengangkat derajat keluargamu. Untukmu, untuk ibu, untuk kakak, aku persembahkan Sarjana Ku untuk kalian.
Pak, Aku Sarjana.

Komentar
Posting Komentar